Perjalanan Para “Pejuang” NALASUD XV

Setelah 5 tahun (2009), beberapa hari yang lalu kami telah melaksanakan Napak Tilas Letkol Moch. Sroedji yang ke 15. Suka duka telah kami alami. Sebelum menjalani NALASUD XV kami tak pernah tahu seperti apa rasanya melakukan perjalanan sejauh (±) 150 Km dalam 5 hari. Panas, dingin, capek telah kami rasakan. Tapi semua itu hanya sebagian kecil dari apa yang telah dialami oleh Letkol Moch. Sroedji. Mungkin anda belum mengenal siapa Letkol Moch. Sroedji, Kami pun sebenarnya juga belum mengenal sepenuhnya siapa Letkol Moch. Sroedji tersebut. Namun dengan adanya NALASUD ini, ditambah dengan hadirnya buku Sang Patriot yang ditulis oleh Irma Devita salah seorang cucu Letkol Moch. Sroedji. 
Sebelum menjalani napak tilas ini, kami tidak pernah terbayang kaki-kaki kami melangkah menyusuri sungai, sawah, jalan setapak, hutan, dan perkebunan sejauh (±) 150 Km. Di hari pertama kami berangkat pagi hari dari Sanggar Pramuka Unej menuju Balai Desa Manggisan Kecamatan Tanggul, tepatnya pada pukul 01.00 WIB. Dari Balai Desa Manggisan, kami menuju Desa Darungan dengan melewati sungai, sawah, serta perkampungan penduduk. Sebelum subuh kami telah sampai di Desa Darungan dan meneruskan perjalanan ke Desa Selodakon. Para pejuang terbagi dalam 3 kompi, dimana dalam 1 kompi terdapat 11 pejuang.

Peserta melepas lelah sejenak di bds Selodakon
fg: Dwi Agusatya Wicaksana

Setelah melewati desa Selodakon kami bergerak ke arah utara menuju Desa Badean dilanjutkan ke Desa Bangsalsari, kemudian Tugusari, Curahkalong dan berakhir di Gambirono. Pada malam pertama perjalanan, kami menginap di Kantor Camat Bangsalsari. Di hari pertama ini, ada satu pejuang NALASUD yang gugur (kondisi sakit sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan)
Di hari kedua pada tanggal 17 Agustus 2014 dengan cuaca pagi yang dingin yang menyelimuti kami para pejuang NALASUD XV, kami pun bersiap untuk mengikuti upacara peringatan kemerdekaan RI yang ke 69. Kami berkumpul bersama peserta upacara yang lain di lapangan Bangsalsari. 
Para Pejuang Tengah Mengikuti Upacara 17 Agustus
fg: Dwi Agusatya Wicaksana
Setelah mengisi amunisi (makan pagi) kami bersegera melanjutkan “gerilya” menuju Desa Karangsono sesaat setelah meninggalkan Kantor Camat Bangsalsari, kami sempat mengabadikan diri di monumen perjuangan yang terletak di dekat Jalan Raya Bangsalsari
Peserta berpose di monumen perjuangan di Bangsalsari
fg: Dwi Agusatya Wicaksana
Di hari kedua kami menyusuri desa Karangsono, Curahlele, Karangsemanding, Karang Duren, Balung Tutul, dan Balung Kulon. Kami sampai di Balung Kulon pada malam hari, sebenarnya tujuan kami adalah Balai Desa Taman Sari namun melihat kondisi para pejuang yang dirasa tidak mampu sehingga kami memutuskan untuk bermalam di Balai Desa Balung Kulon. Baru keesokan paginya kami melanjutkan ke Taman Sari.
Di hari ketiga kami menyusuri rute “neraka”. Sebutan rute “neraka” disematkan oleh para pejuang NALASUD sebelum-sebelumnya. Disebut rute neraka dikarenakan ketika melewati rute tersebut terasa panas yang menyengat. Rute di hari ketiga ini melewati desa-desa berikut : Taman Sari, Lojejer, Kepel Ampel, Sidomulyo, Sumber Rejo, Sabrang, Andongsari, Sidodadi, Pontang dan berakhir di Jatisari.
Namun lagi-lagi kami mesti merubah “siasat gerilya” kami, di hari ketiga kami bermalam di sebuah Masjid di Sabrang karena kondisi para pejuang NALASUD XV yang menurun. Meski demikian, para pejuang tetap bersemangat untuk melanjutkan sisa gerilya yang mesti ditempuh. Seperti halnya Letkol Moch. Sroedji yang tanpa kenal lelah berjuang demi rakyat Indonesia. 
Di hari ke-4 kami meneruskan kembali “gerilya” kami tepat pada pukul 02.00 WIB. Dengan melewati jalanan yang sepi lenggang, kami terus berjalan perlahan sambil merasakan dinginnya udara pagi di daerah Jember Selatan ini. Dengan berbalut jaket, syal, sarung tangan, kaos kaki tebal kami berjalan setapak-demi setapak hingga kami sampai di Desa Andongsari. Ketika shubuh datang menyambut, kami pun beristirahat di Masjid yang menjadi rute “gerilya” kami, seusai Shalat kami beristirihat sejenak sambil merawat kaki para pejuang yang terluka. Setelah itu baru kami melanjutkan perjalanan.
Suasana pagi hari di Desa Pontang
fg: Dwi Agusatya Wicaksana
Di hari ke-empat ini kami terus melangkah meski tertatih, terus berjalan meski perih. Sebuah rasa yang mungkin tidak pernah ingin dirasakan oleh manusia. Namun semangat kita kembali muncul saat mengingat kembali perjuangan para pejuang kemerdekaan khususnya Letkol Moch. Sroedji, dimana beliau menyusuri hutan, sungai, menghindari penduduk agar tujuan mereka merebut kembali Jember dari tanah penjajah bisa terwujud. Entah perasaan seperti apa yang mereka (baca: pejuang) rasakan dulu,..ada yang jauh dari keluarganya, mungkin ada yang mengalami sakit, dsb. Karena itulah kami pun bertekad untuk menyelesaikan “perjuangan” ini, apa yang kami rasakan takkan pernah sebanding dengan apa yang dirasakan para pejuang yang telah mengorbankan jiwa raga mereka.
Strategi kami sebenarnya ingin “wingate action” yang kami lakukan selesai di hari ini, namun agar kami tidak kehilangan pejuang maka kami pun memutuskan mengakhiri hari ini di desa Lengkong. Sekitar pukul 22.00 kami tiba di perkampungan penduduk di Desa Lengkong, dan kami beristirahat di sebuah Masjid sebelum berangkat kembali pada pukul 00.30
Lokasi para “pejuang” beristirahat di Desa Lengkong
fg: Dwi Agusatya Wicaksana


Tangal 20 Agustus 2014 merupakan hari terakhir perjuangan kami. Perjuangan menyusuri rute gerilya Letkol Moch. Sroedji, di hari ini kami melewati rumah-rumah penduduk dengan sepi, hanya terdengar hembusan nafas kami yang melawan dinginnya pagi dan suara langkah kaki kami. 
Para “pejuang” melepas lelah sejenak di jalan di Desa Mumbulsari
fg: Dwi Agusatya Wicaksana

Seusai Shalat kami kembali berjalan untuk menuntaskan misi, dengan diselimuti udara dingin dan segar, kami terus malangkah menyusuri jalanan untuk menuju Desa Lampeji sebelum memasuki daerah perbukitan di Desa Karang Kedawung. 
Para “pejuang” memasuki kawasan perbukitan di Desa Lampeji
fg: Dwi Agusatya Wicaksana
Setelah menyusuri perbukitan selama beberapa jam, akhirnya kami tiba Monumen Letkol Moch. Sroedji di Desa Karang Kedawung, Mumbulsari sekitar pukul 10.00 WIB. Dengan wajah ceria, penuh kelegaan para pejuang telah berhasil menempuh jarak yang tidak dekat. Berjalan selama beberapa hari, sambil menahan dinginnya cuaca, sakitnya kaki, dan lelahnya raga, kami benar-benar bisa bersyukur bisa merasakan sedikit apa yang telah dirasakan oleh Letkol Moch. Sroedji beserta pasukannya yang tergabung dalam Brigade Damarwulan. 
Para “pejuang” mengabadikan momen di monumen Letkol Moch. Sroedji
fg: Dwi Agusatya Wicaksana
Seusai melakukan “gerilya” kami pun ditarik kembali ke markas kami (sanggar Pramuka Unej). Di markas kami pun disambut oleh seseorang yang bisa kami katakan istimewa yaitu mas Deddy Prasetyo, putra pertama dari Ibu Pudji Redjeki Irawati yang merupakan anak ke 4 dari Moch. Sroedji. Beliau sengaja datang dari jauh ke Jember sebagai bentuk dukungan dari pihak keluarga besar Letkol Moch. Sroedji kepada para “pejuang” yang telah melaksanakan dan berpatisipasi dalam NALASUD XV. Beribu rasa terima kasih kami haturkan kepada Keluarga Besar Letkol Moch. Sroedji yang telah mendukung penuh acara NALASUD ini. Semoga untuk kedepan NALASUD bisa semakin semarak dan meriah serta bisa menjadi salah satu pemicu agar semangat para pejuang bisa terlahir kembali di darah generasi muda saat ini.
Tak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada Universitas Jember, Kwartir Daerah Jawa Timur dan pihak-pihak yang telah mendukung NALASUD ini. Dan kepada para pejuang NALASUD XV, jangan sampai jiwa nasionalisme, patriotisme hilang dari diri kalian. Teruskan dan kobarkan semangat para pejuang dalam mengisi perjuangan saat ini. (aam/red)
Acara sarasehan penutupan NALASUD XV
fg: Dwi Agusatya Wicaksana
Penyerahan Plakat dari Keluarga Besar Moch. Sroedji kepada pihak Pramuka Unej
fg: Dwi Agusatya Wicaksana
aam/red
photografer: Dwi Agusatya Wicaksana
Dwi Wicaksana | Universitas Jember © 2016 ~ Sarana Informasi Kuliah Universitas Jember
Skip to toolbar